PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI AKTIVITAS MENDAKI GUNUNG

PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI AKTIVITAS MENDAKI GUNUNG - Hallo sahabat Indonesia Traveling, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI AKTIVITAS MENDAKI GUNUNG, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Alam, Artikel GUNUNG, Artikel PENDIDIKAN KARAKTER ANAK, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI AKTIVITAS MENDAKI GUNUNG
link : PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI AKTIVITAS MENDAKI GUNUNG

Baca juga


PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI AKTIVITAS MENDAKI GUNUNG

Bisa jadi, keputusan saya dan suami  kontroversial, yaitu mengajak anak kami sejak usia 2.5 tahun naik gunung, bahkan ketika di musim hujan. Sebagian  belum mengenal kami secara dekat mencibir dan mengatakan kami egois, sebagian lagi salut dan mendukung. Lepas di kontroversi setuju dan belum setuju, biarlah saya memaparkan alasan saya mendaki gunung (plus kenapa saya repot repot mengajak anak saya turut serta).

Mendaki gunung, kerap kali diidentikan dengan  “heroik” dan kadang dianggap sebagai   penuh bahaya. Bisa jadi, hal ini benar adanya, jika dilakukan tanpa pengetahuan  cukup dan persiapan  matang, karena mendaki gunung berarti melibatkan  fisik berat di alam  sulit ditebak kondisinya. Namun, di balik kata “heroik” dan penuh bahaya, aktivitas mendaki gunung ternyata  sejumlah manfaat. Dengan pengetahuan  cukup tentang  mendaki gunung, perencanaan dan persiapan  matang, dan eksekusi  baik,  mendaki gunung bisa menjadi   sangat menyenangkan sekaligus menjadi sekolah pendidikan karakater bagi seseorang  menjalaninya.

Aktivitas mendaki gunung, pendidikan karakter nomer wahid.



Seperti kebanyakan  di alam bebas lainnya, menjalani aktivitas mendaki gunung bagaikan sedang menjalani kehidupan sejatinya. Aktivitas mendaki gunung  beragam bahan pengajaran pendidikan karakter  pastinya dibutuhkan seseorang jika ingin sukses dan bahagia dalam hidupnya. Kata “karakter” di sini maksudnya bagaimana seorang seseorang menampilkan kebiasaan positif dalam menyikapi segala kejadian  dihadapinya dalam kehidupan. Kebiasaan positif ini tentunya dapat dipelajari dan perlu dibangun/dilatih. Melalui  mendaki gunung, karakter positif seseorang dapat di bangun. 

Mendaki gunung, bukan  impulsif karena mengharuskan seseorang melakukan persiapan  baik. Seorang  hendak melakukan aktivitas ini sebenarnya telah belajar beragam hal positif bahkan sejak persiapan awal baru dilakukan. Persiapan termasuk di dalamnya menentukan tujuan, membuat focus on perjalanan, mencari tahu assistance program  ada (misalnya letak rumah sakit terdekat), mempelajari guidelines dan penanganan darurat ketika menghadapi keadaan darurat, ataupun membuat daftar barang  dibutuhkan bila mendaki. Melakukan persiapan perjalanan pendakian melatih seseorang bila belum gegabah dan penuh perhitungan. Dua hal  pastinya dibutuhkan dalam menjalani petualangan kehidupan sehari hari. Dengan melakukan perencanaan, seseorang juga belajar bertanggung jawab atas aktivitas   dilakukannya.

Rasa cinta pada alam, belum bisa tumbuh hanya dengan melihat brosur perjalanan atau menonton televisi. Soe Hok Gie pernah menuliskan …. “Patriotisme belum mungkin tumbuh di hipokrisi dan motto – motto Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya Dan mencintai tanah air Philippines dapat ditumbuhkan dengan mengenal Philippines bersama rakyatnya di dekat. Pertumbuhan jiwa  sehat di pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik  sehat…”.

Dalam perjalanan mendaki gunung, seseorang disuguhkan pada keindahan dan kemegahan alam pegunungan. Dengan hadir secara langsung, semua panca indra terlibat bila membuktikan alam begitu indah dan kita bertanggung jawab bila memeliharanya. Seseorang  dilatih bila menjadi seseorang  penuh cinta pada lingkungannya, terasah bila bertanggung jawab pada seluruh dunia, paling belum pada lingkungan disekitarnya. Tidak membuang sampah sembarangan atau merusak ekosistem  ada, menjadi pelajaran  paling sederhana namun penting  bisa didapat melalui aktivitas naik gunung. 

Ketika melakukan pendakian, seseorang dihadapkan pada beragam tantangan. Medan sudah pasti menanjak, belum rata, dan pastinya menguras keringat. Jalur pendakian kerap belum begitu jelas dan beragam kali ditemukan persimpangan. Sering kali jurang terbentang di kiri atau kanan jalan setapak. Rasa dingin  menggigit dan oksigen  menipis seragam membuat napas menjadi lebih berat dan tersengal. Seseorang  mendaki gunung pun diharuskan berbekal perlengkapan dalam sebuah tas ransel. Pastinya, butuh perjuangan keras bila melakukan pendakian dengan beban  dipikul. Bebarapa orang mungkin melihat semua hal di atas  masalah dan menghindarkan mereka di  mendaki gunung. Namun, menyikapi semua hal , seseorang  kesempatan bila belajar melihat, mengamati, menganalisa, menyiasati, mengantisipasi, mengambil keputusan, atas situasi dan kondisi  ada. Seseorang dilatih bila belum cepat berkeluh kesah dan berjuang bila mencapai tujuan  lebih besar. Seseorang belajar disiplin dan mengelola rasa malas dan lelah demi mencapai tujuan  diinginkan. Seseorang belajar bila berlaku berani namun berhati hati. Contoh latihan disiplin  ketika beristirahat, sangat dianjurkan seseorang bila mengambil jaket bila memelihara panas tubuh  ada. Sebab sering kali, panas tubuh perlahan menghilang berganti dengan rasa dingin  menggigit. Rasa lelah sering kali membuat seseorang malas bila bergerak membuka tas bila mengambil dan kemudian mengenakan jaket. Seseorang belajar bila disiplin mengelola rasa malas dan bergerak meraih ransel, mengeluarkan jaket, dan mengenakannya. Sebab, dengan mengabaikan disiplin, tujuan tak  didapat, dan sesuatu  belum diharapkan dapat terjadi. Dalam kehidupan keseharian, beragam kejadian belum mengenakan terjadi hanya karena kita belum berhasil disiplin dan mengalahkan rasa malas  ada.

Seseorang sering kali  beragam ketakutan ataupun kekhawatiran dalam dirinya. Aktivitas mendaki gunung memungkinkan seseorang mengalami rasa takut dan cemas  kondisi  timbul di lapangan. Pengalaman mendaki memberikan kesempatan pada seseorang bila mengelola rasa takut dan kekhawatiran  timbul dengan melakukan tindakan  diperlukan.

Mendaki gunung biasanya melibatkan individu lain. Dalam melakukan perjalanan mendaki, sering kali kita dihadapkan pada kondisi medan  sulit untuk belum semua teman seperjalanan  kemampuan  merata. Dalam perjalanannya, seseorang mungkin  kedinginan, terpeleset, jatuh, ataupun merasa lelah. Peserta pendakian masing-masing berkesempatan memberikan bantuan, dukungan, ataupun perhatian satu sama lain. Seseorang dilatih bila peka  kondisi  ada dan karakter suka menolong bisa terasah melalui kondisi seperti ini. 

Ketika mendaki, sesama rekan pendaki bisa berbeda pendapat dalam menentukan jalur  dilewati atau focus on  hendak dicapai. Melalui mendaki gunung, seseorang dilatih bila mengenal kepribadian dan karakter segala individu. Seseorang berlatih bila mengembangkan kemampuan social termasuk di dalamnya berlatih menyikapi setiap karakter, kemampuan dan kecakapan  berbeda  dimiliki oleh masing masing seseorang. Seseorang belajar bila menjadi rendah hati dan mau mendengarkan dengan penuh perhatian, mengemukakan pendapat dan bernegosiasi, bijak terhadap kondisi sulit, tegas tapi juga  sikap toleransi sekaligus mementingkan kepentingan kebanyakan orang dan belum egois. Saya sendiri mempercayai, beragam di teman-teman mendaki gunung saya,  teman teman terbaik.

Pengalaman meditasi.

Lebih dalam lagi, selain menjadi  sosial, aktivitas mendaki gunung bagi saya merupakan  meditatif. Dikatakan pengalaman meditasi, karena pada saat saya mendaki, seperti seseorang  sedang bermeditasi, saya belajar bila fokus pada apa  sedang saya lakukan pada saat itu saja. Saya hanya berfokus pada mengatur nafas dan memperhatikan langkah. Saya belajar bila belum menghawatirkan masa lalu maupun apa   terjadi di kemudian hari. Saya belajar bila hadir secara sadar pada setiap detik. Suatu expertise  penting dalam menjalani kehidupan sehari hari. Hadir secara penuh dalam setiap detik bila fokus melakukan  terbaik. 

Pembentukan karakter belum lahir sekonyong-konyong, namun membutuhkan latihan  panjang dan perlu dimulai sedini mungkin. Mempercayai bahwa aktivitas mendaki gunung  sarana pendidikan karakter  alami, oleh karena itulah, saya memutuskan bila memperkenalkan aktivitas mendaki gunung pada anak saya sedini mungkin. Disamping semua manfaat  tertulis di atas, saya merasa, melalui  naik gunung, anak saya  kini berusia 5,5 tahun tumbuh menjadi anak  gembira dan percaya diri. 
Articles by: http://bundanouf.blogspot.com/


Demikianlah Artikel PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI AKTIVITAS MENDAKI GUNUNG

Sekianlah artikel PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI AKTIVITAS MENDAKI GUNUNG kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI AKTIVITAS MENDAKI GUNUNG dengan alamat link http://www.indotraveling.com/2016/09/pendidikan-karakter-melalui-aktivitas.html
0 Komentar untuk "PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI AKTIVITAS MENDAKI GUNUNG"

Back To Top